Tuesday, July 3, 2012

Teori Komunikasi: Teori Film (Film Theory)

Tokoh Pemikir

Rudolf Arnheim (Jerman, 15 Juli 1904-9 Juni 2007)
Lev Vladimirovich Kuleshov (Rusia, 13 Januari 1899-29 Maret 1970)
AndrĂ© Bazin  (Prancis, 18 April 1918-11 November 1958)
Siegfried Kracauer (Jerman, 8 Februari 1889-26 November 1966)
Gilles Deleuze (Prancis, 18 Januari 1925-4 November 1995)


Buah Pemikiran

Rudolph Arnheim, salah satu tokoh pemikir, mengacu kepada adanya potensi perubahan dari pembuatan film dari aslinya, dikarenakan adanya pilihan framing, sudut kamera, dan pencahayaan. Maka, proses pengeditan menjadi akar dari teori ini.
Lev Kuleshov melakukan eksperimen dengan mengedit rekaman bersama-sama dengan cara yang berbeda untuk menentukan dampak pada penonton. Hal itu menunjukkan bahwa penonton menjadi penentu hubungan dari bidikan satu ke bidikan lainnya.
Sergei Eisenstein berpendapat bahwa potensi tertinggi dalam pengeditan terletak pada tabrakan gambar yang berbeda untuk menghasilkan ide-ide baru.
André Bazin dan Siegfried Kracauer menjelaskan bahwa film tidak memproduksi dunia yang telah dikenal oleh penonton, tetapi mengungkapkan apa yang tidak diketahui sebelumnya oleh penonton. Dalam hal pengeditan, teori realis juga tidak sepaham dengan teori formatif. Bazin percaya bahwa jika sebuah film harus diedit, maka harus mengalami pengeditan yang berkelanjutan, di mana tindakan pengeditan dibagi persusunannya, lalu kemudian disusun kembali. Oleh karena itu, Bazin menyukai pendekatan sinematik yang mengambil take panjang, yaitu membidik seluruh adegan dalam satu bidikan yang terus-menerus dengan fokus yang nampak sama. Bazin menekankan bahwa para pembuat film harus bebas saat membuat film dengan melakukan berbagai pendekatan sinematik, bukan menenakankan pengeditan.
Setelah itu, banyak teori bermunculan, teori ini dikembangkan dari ilmu sosial, misalnya teori lingusitik oleh Ferdinand de Saussure dan teori psikoanalisis oleh Jacques Lacan. Teori ini juga harus dipahami dalam konteks sejarah, bahwa film diproduksi sesuai lingkungan sosialnya, misalnya tentang hak-hak sipil, hak perempuan, dan gerakan antiperang pada zaman tersebut. Ide-ide tradisional tentang gender dan seksualitas juga menjadi tantangan dalam film.
Hingga muncul teori baru, Teori Marxis dan Teori Film Feminis. Marxisme merupakan tantangan kapitalisme, sedangkan feminisme merupakan tantangan patriarki, yang sama-sama menjadi ideologi dominan dalam budaya pada saat itu. Marxisme mendukung untuk mengakhiri penindasan kaum miskin dan kelas pekerja, sementara feminisme mendukung untuk mengakhiri penindasan perempuan. Kedua perspektif tersebut digunakan dalam berbagai kritik pada film. Teori ini dianggap dapat mendorong kelanjutan ideologi penindasan dalam struktur-struktur lainnya, sehingga mereka hanya dianggap sebagai koreksi dalam perfilman.
Setelahnya, Teori Film sekali lagi berubah arah. Teori baru menolak asumsi dasar dari teori materialis, namun secara implisit mengakui kekakuan sistematis yang mereka bawa ke studi tentang film. Teori baru ini dicontohkan pada karya Gilles Deleuze. Film sebagai bahasa sistem atau kode yang harus dipecahkan untuk menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya. Deleuze berpendapat bahwa film sebagai gambar dan suara yang kompleks.

Perkembangan Teori

1930-an, Teori Formatif, yaitu:
film bukan sekedar rekaman gambar, karena adanya potensi perubahan dari pembuatan film dari aslinya, dikarenakan adanya pilihan framing, sudut kamera, dan pencahayaan, maka, proses pengeditan menjadi akar dari teori ini.
meskipun Teori Film dari masa pergantian abad melalui tahun 1930-an berbeda-beda sesuai fokus dari tokoh pemikir masing-masing, tetapi mereka menekankan pada perubahan sebuah film dikarenakan alat-alat yang ada.

1945-an (Setelah Perang Dunia II), Teori Realis, yaitu:
kualitas film terletak pada kemampuannya menangkap hal-hal yang nyata dan realis
film tidak memproduksi dunia yang telah dikenal oleh penonton, tetapi mengungkapkan apa yang tidak diketahui sebelumnya oleh penonton.
pembuat film harus bebas saat membuat film dengan melakukan berbagai pendekatan sinematik, bukan menenakankan pengeditan.

1960-an, Teori Materialis, yaitu:
tindakan dan kesadaran manusia dibentuk oleh materi sebagai kekuatan pokok yang ada di luar kendali individu. eori dikembangkan dari ilmu sosial, misalnya teori lingusitik oleh Ferdinand de Saussure dan teori psikoanalisis oleh Jacques Lacan.
film diproduksi sesuai lingkungan sosialnya, misalnya tentang hak-hak sipil, hak perempuan, dan gerakan antiperang pada zaman tersebut

Setelah 1970-an, Teori Marxis dan Teori Film Feminis, marxisme merupakan tantangan kapitalisme, sedangkan feminisme merupakan tantangan patriarki, yang sama-sama menjadi ideologi dominan dalam budaya pada saat itu
teori ini dianggap mendorong kelanjutan ideologi penindasan dalam struktur-struktur lainnya, sehingga mereka hanya dianggap sebagai koreksi dalam perfilman.

1980-an, Teori Film kembali berubah arah, yaitu:
menolak asumsi dasar dari teori materialis, namun mengakui kekakuan sistematis film.
film sebagai bahasa sistem atau kode yang harus dipecahkan untuk menemukan makna yang tersembunyi di dalamnya. film  sebagai gambar dan suara yang kompleks.


Asumsi Dasar

Tahapan pertama pemikiran teoritis tentang film merupakan respon dari orang-orang yang menolak bahwa gambar bergerak (kata lain dari sinema pada zamannya) hanyalah rekaman tanpa nilai intrinsik. Pada mulanya, Teori Film berpendapat bahwa film merupakan sebuah seni baru, maka mereka menganalogikan film dengan seni tradisional. Gerakan dalam bingkai dan pemotongan beberapa rangkaian membentuk ritme visualisasi gambar dan musik, yang menjadi estetika baru. Teori ini membantah bahwa film merupakan rekaman belaka, karena bahan baku atau subjek harus melalui kamera yang kemudian diubah, dimanipulasi, dan dibentuk oleh proses sinematik.

Pengaplikasian Teori

Teori ini biasa digunakan untuk pengamat perfilman, terutama bagi kritikus film yang mengkonsentrasikan penelitiannya kepada dunia perfilman. Teori ini merupakan teori film yang ada di Barat, akan tetapi karena film Barat telah dibawa oleh arus globalisasi, maka film non-Barat juga kurang lebih mengikuti teori tersebut.


Referensi:
Littlejohn, Stephen W. II. Foss, Karen A. 2009. Encyclopedia of Communication Theory. America: Library of Congress Cataloging-in-Publication Data.


No comments:

Post a Comment