Sunday, May 15, 2011

Prinsip Komunikasi - Komunikasi itu Berprinsip!

Siapa bilang komunikasi itu asal ngomong? Komunikasi itu ternyata berprinsip lho! Ada beberapa prinsip dalam komunikasi, sebagai berikut:

a. Komunikasi adalah proses simbolik

Susanne K. Langer mengatakan bahwa salah satu kebutuhan pokok manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan lambang. Lambang atau simbol adalah sesuatu yang dipakai untuk menunjuk sesuatu lainnya, berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang meliputi kata-kata (verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang maknanya telah disepakati bersama. Kemampuan manusia menggunakan lambang verbal memungkinkan perkembangan bahasa dan menangani hubungan manusia dan objek (baik nyata maupun abstrak) tanpa kehadiran manusia dan objek tersebut.

Lambang termasuk kategori tanda. Hubungan tanda dengan objek dapat direpresentasikan oleh ikon dan indeks, namun ikon dan indeks tidak memerlukan kesepakatan. Ikon adalah benda fisik (dua atau tiga dimensi) yang menyerupai apa yang direpresentasikannya. Sedangkan indeks adalah tanda yang secara alamiah mempresentasikan objek lainnya. Istilah yang sering digunakan untuk indeks adalah sinyal atau gejala. Indeks muncul karena adanya hubungan sebab akibat yang punya kedekatan eksistensi.

Lambang bersifat sembarang, manasuka, atau sewenang-wenang. Apa saja bisa dijadikan lambang, tergantung kepada kesepakatan bersama. Kata-kata, isyarat, anggota tubuh, makanan dan cara makan, tempat tinggal, jabatan pekerjaan, olahraga, hobi, peristiwa, hewan, tumbuhan, gedung, alat (artefak), angka, bunyi, waktu, dan sebagainya. Semua itu bisa menjadi lambang. Lambang hadir di mana-mana, namun alam tidak memberikan penjelasan mengapa manusia menggunakan lambang tertentu untuk merujuk kepada hal tertentu. Penyebutan itu hanya berdasarkan pada kesepakatan.

Lambang bervariasi dari suatu kebudayaan ke kebudayaan lain, dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu konteks waktu ke konteks waktu lainnya. Makna yang diberikan kepada suatu lambang juga dapat berubah dalam perjalanan waktu, meskipun perubahan makna itu akan berjalan lambat. Pemaknaan terhadap suatu perilaku juga bisa berubah.

Kesimpulannya, berkat kemampuan menggunakan lambang, baik dalam penyandian atau penyandian-balik, manusia bisa berbagi pengalaman dan pengetahuan, bukan hanya antar mereka yang hadir bersama, bahkan juga antar mereka yang tinggal berjauhan atau berbeda generasi.

a. Perilaku mempunyai potensi komunikasi

Kita tidak dapat tidak berkomunikasi. Itu berarti bahwa semua perilaku adalah komunikasi. Komunikasi terjadi bila seseorang member makna pada perilaku orang lain atau perilakunya sendiri. Sulit bagi seseorang untuk tidak berkomunikasi, karena setiap perilaku mempunyai potensi untuk ditafsirkan.

b. Komunikasi mempunyai dimensi isi dan dimensi hubungan

Dimensi isi disandi secara verbal, sedangkan dimensi hubungan disandi secara nonverbal. Dimensi isi menunjukan isi komunikasi, yaitu apa yang dikatakan. Sedangkan dimensi hubungan menunjukan bagaimana cara mengatakan dan mengisyaratkan hubungan para peserta komunikasi dan bagaimana seharusnya pesan ditafsirkan.

Dalam komunikasi massa, dimensi isi merujuk kepada isi pesan, sedangkan dimensi hubungan merujuk kepada unsur-unsur lain, termasuk jenis saluran yang digunakan untuk menyalurkan pesan tersebut.

Pengaruh pesan sendiri dapat menimbulkan pengaruh berbeda bila disampaikan orang berbeda, media yang berbeda, bahkan sudut pengambilan dan gerakan kamera yang berbeda kepada khalayak pemirsa.

c. Komunikasi berlangsung di berbagai tingkat kesengajaan

komunikasi dilakukan dalam berbagai tingkat kesengajaan, dari komunikasi yang tidak disengaja sama sekali hingga komunikasi yang benar-benar direncanakan dan disadari. Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. Karena meski kita tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain, perilaku kita potensial ditafsirkan orang lain.

Kita tidak dapat mengendalikan orang lain untuk menafsirkan atau tidak menafsirkan perilaku kita, karena membatasi komunikasi sebagai proses yang disengaja berarti menganggap komunikasi hanya sebagai instrumen.

Dalam komunikasi, biasanya kesadaran kita lebih tinggi dalam situasi khusus daripada dalam situasi rutin. Dalam komunikasi sehari-hari juga terkadang kita mengucapkan pesan verbal yang tidak disengaja. Namun lebih banyak lagi pesan nonverbal yang kita keluarkan tanpa disadari. Terkadang komunikasi yang disengaja dibuat seolah-olah tidak disengaja.

Jadi, niat atau kesengajaan bukanlah syarat mutlak seseorang berkomunikasi. Bahkan banyak kesalahpahaman antarbudaya yang sebenarnya disebabkan oleh perilaku seseorang yang tidak disengaja yang dipersepsi, ditafsirkan, dan direspon oleh orang dari budaya lain.

d. Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu

Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik dan ruang (termasuk iklim, suhu, intensitas cahaya, dan sebagainya), waktu, social, dan psikologis. Waktu mempengaruhi makna terhadap suatu pesan. Kehadiran orang lain, dalam konteks social juga mempengaruhi orang-orang yang berkomunikasi. Begitu pula dengan suasana psikologis peserta komunikasi tidak pelak mempengaruhi suasana komunikasi.

e. Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi

Ketika orang berkomunikasi, mereka meramalkan efek perilaku komunikasi mereka, dengan kata lain, komunikasi terikat oleh aturan atau tatakrama. Orang-orang memilih strategi tertentu berdasarkan bagaimana orang yang menerima pesan akan merespons. Terkadang prediksi ini tidak disadari dan berlangsung cepat. Kita juga tidak dapat memprediksi perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya.

Tetapi hingga derajat tertentu ada keteraturan pada perilaku komunikasi manusia. Artinya perilaku manusia dapat diramalkan, karena bila semua perilaku manusia itu acak dan tanpa diduga hidup akan menjadi sulit.

f. Komunikasi bersifat sistemik

Setiap individu adalah sistem yang hidup, karena organ-organ dalam tubuh kita saling berhubungan. Dua sistem dasar beroperasi dalam transaksi komunikasi adalah sistem internal dan sistem eksternal.

sistem internal adalah sistem nilai yang dibawa individu ketika ia berpartisipasi dalam komunikasi selama sosialisasinya dalam berbagai lingkungan social. Istilah yang identik dengan sistem internal adalah kerangka rujukan (frame of reference), bidang pengalaman (field of experience), struktur kognitif (cognitive structure), pola piker (thinking patterns), keadaan internal (internal states), atau sikap (attitude). Sistem internal ini membentuk semua unsure yang membentuk pribadi yang unik, termasuk cirri kepribadiannya, intelegensi, pendidikan, pengetahuan, agama, bahasa, motif, keinginan, cita-cita, dan semua pengalaman, yang sebenarnya tersembunyi,

Sedangkan sistem eksternal terdiri dari unsur dalam lingkungan luar individu, termasuk kata yang ia pilih untuk berbicara, isyarat fisik, kegaduhan di sekitarnya, penataan ruang, cahaya, dan temperatur ruangan.

Tetapi karena setiap orang mepunyai sistem internal yang berbeda, maka setiap orang tidak mempunyai bidang perceptual yang sama, meskipun mereka duduk di ruang yang sama dan menghadapi situasi yang sama. Maka komunikasi adalah produk dari perpaduan antara sistem internal dan sistem eksternal. Lingkungan dan objek mempengaruhi komunikasi, namun persepsi atas lingkungan juga mempengaruhi cara berperilaku seseorang.

g. Komunikasi semakin efektif bila semakin mirip latar belakang sosial-budayanya

Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang sesuai dengan harapan pesertanya. Tapi dalam kenyataannya, tidak pernah ada dua manusia yang persis sama. Namun adanya kesamaan dalam hal-hal tertentu misalnya, agama, suku, bahasa, tingkat pendidikan, atau tingkat ekonomi akan mendorong seseorang untuk tertarik dan membuat komunikasi lebih efektif.

h. Komunikasi bersifat nonsekuensial

Meskipun banyak model komunikasi linier (satu-arah), tetapi pada dasarnya komunikasi bersifat dua-arah. Komunikasi tersebut disebut komunikasi sirkuler. Komunikasi sirkuler ditandai dengan beberapa hal berikut:

· Orang-orang yang berkomunikasi dianggap setara

· Proses komunikasi berjalan timbale balik dan tidak lagi ditandai dengan suatu garis lurus yang bersifat linier

· Peserta komunikasi tidak lagi membedakan pesan dengan umpan balik

· Komunikasi dua orang secara simultan melibatkan komunikasi dengan diri sendiri sebagai mekanisme untuk menghadapi pihak lain

Meskipun sifat sirkuler ini digunakan untuk menandai proses komunikasi, sebenarnya unsur proses komunikasi tidak terpola secara kaku. Unsur proses komunikasi beroperasi dalam suatu tatanan, tetapi juga mungkin terjadi dalam suatu keadaan acak.

i. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan transaksional

Komunikasi tidak mempunyai awal dan akhir, melainkan merupakan proses yang berkesinambungan. Heraclitus menyatakan bahwa “Seorang manusia tidak akan pernah melangkah di sungai yang sama dua kali.” Jadi dalam kehidupan manusia, tidak pernah saat yang sama dating dua kali. Begitu juga dengan komunikasi, komunikasi terjadi sekali waktu dan kemudian menjadi bagian sejarah kita.

Dalam proses komunikasi, para peserta komunikasi saling mempengaruhi baik secara verbal maupun nonverbal. Proses transaksi ini dalm komunikasi menunjukan bahwa peserta komunikasi saling berhubungan, sehingga kita tidak dapat mempertimbangkan salah satu tanpa mempertimbangkan yang lainnya.

Semua model komunikasi sebenarnya merupakan “pemotretan” atas gambaran diam dalam proses komunikasi. Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah bahwa peserta komunikasi berubah. Ada yang perubahannya sedikit demi sedikit, ataupun secara tiba-tiba.

Implisit dalam proses komunikasi sebagai transaksi adalah proses penyandian (encoding) dan penyandian-balik (decoding). Jadi kita tidak menyandi pesan dan menunggu penyandian-balik, melainkan kita melakukan dua hal tersebut pada saat yang hampir bersamaan ketika berkomunikasi.

Pandangan dinamis dan transaksional member penekanan bahwa kita mengalami perubahan sebagai hasil dari terjadinya komunikasi. Jadi, perspektif transaksional member penekanan kepada dua sifat peristiwa komunikasi, yaitu serentak dan saling mempengaruhi. Para peserta saling bergantung dan komunikasi mereka dianalisis berdasarkan konteks peristiwanya.

j. Komunikasi bersifat irreversible

Suatu perilaku adalah suatu peristiwa. Oleh karena itu, perilaku berlangsung dalam waktu dan tidak dapat diambil kembali. Sekali kita mengirimkan pesan, kita tidak dapat mengendalikan pengaruh pesan bagi khalayak, apalagi menghilangkan efek pesan tersebut sama sekali.

Sifat iirreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai proses yang selalu berubah. Menyadarkan kita jika kita harus berhati-hati untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, sebab efeknya tidak dapat dihilangkan meskipun kita meralatnya.

Dalam komunikasi massa, sekali wartawan memberitakan yang tanpa disengaja mencemarkan nama baik maka nama baik orang itu akan sulit diposisikan ke posisi semula meskipun sudah meminta maaf dan memuat hak jawab sumber berita secara lengkap. Maka tidak salah bila Adnan Buyung Nasution, seorang pengacara kondang, mengatakan bahwa penggunaan hak jawab bukan cara terbaik mengatasi masalah pers.

k. Komunikasi bukan obat mujarab untuk menyelesaikan berbagai masalah

Banyak persoalan dan konflik antarmanusia yang disebabkan masalah komunikasi. Namum komunikasi bukanlah obat mujarab untuk menyeselesaikan masalah tersebut, karena persoalan tersebut mungkin berkaitan dengan masalah struktural.

Maka agar komunikasi efektif, kendala-kendala struktural juga harus kita perhatikan dan dibenahi.

No comments:

Post a Comment