Thursday, January 16, 2014

Job Training: Definisi, Tujuan, dan Manfaat

Job training adalah suatu kegiatan yang biasa dilakukan oleh mahasiswa. Kegiatan ini merupakan proses yang terorganisasi untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, kebiasaan kerja, dan sikap pada mahasiswa untuk menemupuh jenjang karir nantinya. Hal ini diharapkan dapat melatih mahasiswa untuk ditempatkan dalam kondisi pekerjaan yang sebenarnya, di bawah bimbingan dan pengawasan dari pegawai yang telah berpengalaman.

Job training yang dilakukan biasa juga dikenal dengan istilah magang. Ternyata, kegiatan ini juga terdapat dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan khususnya pasal 21-30 dan diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi no. Per.22/Men/IX/2009 tentang Penyelenggaraan Pemagangan di Dalam Negeri.

Dalam Peraturan Menteri tersebut (dalam Gajimu.com), pemagangan diartikan sebagai bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja yang lebih berpengalaman dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.

Berbeda dengan pelatihan kerja, atau yang biasa disebut dengan On The Job Training, job training yang dilakukan mahasiswa biasanya merupakan bagian dari pelatihan kerja sebagai salah satu syarat utama untuk menyelesaikan proses pendidikan, tidak sama dengan pelatihan kerja yang biasanya diikuti oleh pekerja yang sudah menandatangani kontrak dengan perusahaan dalam rangka untuk mengembangkan kompetensi kerja dan produktifitas calon karyawan sebelum menjadi karyawan tetap.

Tentunya, banyak manfaat yang dirasakan dari job training, tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi juga untuk perusahaan dan universitas. Job training membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan semua ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah dan mempelajari detail tentang seluk beluk standar kerja yang profesional, tentunya dengan dibimbing oleh pembimbing lapangan. Pengalaman ini kemudian dapat menjadi bekal dalam menjalani jenjang karir yang sesungguhnya dan menambah wawasan mengenai dunia kerja.


-@lauradamerosa

Thursday, July 18, 2013

Istilah dalam Sosiologi Komunikasi Menurut Para Ahli

INTERAKSI SOSIAL

Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan sosial yang menyangkut hubungan antarandividu , individu dan kelompok  antau antar kelompok. (Gillin)

Interaksi sosial adalah kontak atau hubungan timbal balik atau interstimulasi dan respons antar individu, antar kelompok atau antar individu dan kelompok. (Maryati dan Suryawati, 2003)

Interaksi sosial adalah hubungan antar manusia yang menghasilkan suatu proses pengaruh mempengaruhi yang menghasilkan hubungan tetap dan pada akhirnya memungkinkan pembentukan struktur sosial. (Murdiyatmoko dan Handayani, 2004)

STRATIFIKASI SOSIAL

Stratifikasi sosial adalah perbedaan penduduk / masyarakat ke dalam lapisan-lapisan kelas secara bertingkat (hirarkis). (Pitirim A. Sorokin)

Stratifikasi sosial adalah penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hirarkis menurut dimensi kekuasaan, privilese dan prestise. (Drs. Robert M.Z. Lawang)

LEMBAGA SOSIAL

Lembaga sosial merupakan satuan norma khusus yang menata serangkaian tindakan yang berpola untuk keperluan khusus manusia dalam kehidupan bermasyarakat. (Koentjaraningrat)

STRUKTUR SOSIAL

Struktur sosial adalah kumpulan individu serta pola perilakunya. (George Simmel)

Struktur sosial merupakan hal yang memiliki hubungan erat dengan perilaku sosial dasar dalam kehidupan sehari-hari. (George C. Homans)

Struktur sosial adalah susunan yang dapat terjadi karena adanya pengulangan pola perilaku undividu. (William Kornblum)

Struktur sosial adalah hubungan timbal balik antara posisi-posisi dan peranan-peranan sosial. (Soerjono Soekanto)

SISTEM SOSIAL

Sistem sosial adalah sejumlah kegiatan atau sejumlah orang yang mempunyai hubungan timbal balik relatif konstan. Hubungan sejumlah orang dan kegiatannya itu berlangsung terus menerus. (Jabal Tarik Ibrahim)


MOBILITAS SOSIAL

Mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya. (Paul B. Horton)

Mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. (Kimball Young dan Raymond W. Mack)


PERUBAHAN SOSIAL

perubahan sosial merupakan perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. (Kingsley Davis)

Perubahan sosial adalah perubahan yang mencakup unsur-unsur kebudayaan baik material maupun immaterial yang menekankan adanya pengaruh besar dari unsur-unsur kebudayaan material terhadap unsur-unsur immaterial. (William F. Ogburn)

Perubahan sosial adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam hubungan sosial (social relation) atau perubahan terhadap keseimbangan (equilibrium) hubungan sosial. (Mac Iver)

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Dalam Tahapan Public Relations

Selain menentukan bagaimana proses berjalan, maka harus ada hal-hal penting yang turut diperhatikan dalam proses dan tahapan kegiatan PR. Adapun hal-hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Situasi: seorang praktisi PR harus dapat melihat situasi yang ada.
  2. Tujuan: tujuan diadakan untuk mendorong para publik yang akan diarahkan oleh seorang praktisi PR.
  3. Publik: ia juga harus menganalisis orang-orang yang akan menjadi publiknya.
  4. Media: kegiatan PR yang telah ia lakukan tidak akan mungkin lepas dari media.
  5. Anggaran: dalam penyelenggaraan proses tentu dibutuhkan dana.
  6. Hasil: baik atau tidaknya kegiatan yang telah dilakukan dalam proses PR tentu saja akan terlihat pula dalam hasil akhir yang diberikan.


4 Tahapan Dalam Proses Public Relations (Humas)

Public Relations (PR) bukanlah kegiatan yang sembarangan, justru kegiatan ini membutuhkan perencanaan yang berkelanjutan untuk menguntungkan pertumbuhan perusahaan. Hal ini didasari oleh keyakinan bahwa kehidupan perusahaan akan bergantung pada opini publik. Oleh karena itu, kegiatan PR harus dilakukan untuk membentuk respon positif dari opini publik tersebut.

PR adalah seni dan ilmu dalam menganalisis suatu isu, memprediksi konsekuensi, mengorganisasi permasalahan, dan mengimplementasikan program rencana untuk melayani organisasi dan publik.

Hubungan PR merupakan hubungan dua arah. Di satu sisi, fungsinya adalah untuk menafsirkan sebuah organisasi untuk masyarakat. Sementara di sisi lainnya, kegiatan PR mampu melahirkan informasi mengenai apa yang diharapkan oleh publik.

Untuk melaksanakan kegiatan PR dengan baik, maka diperlukan proses. Mengingat, kegiatan PR tidak hanya mementingkan hasil akhir, namun juga cara yang ditempuh untuk memperoleh hasil akhir tersebut.

Dalam memahami dan menyelesaikan permasalahan yang ada dalam lingkungan, seorang praktisi PR harus memiliki tahap-tahap dalam melakukan kegiatannya. Menurut Cutlip dan Center, ada empat proses public relations. Proses tersebut bersifat dinamis, sehingga setiap unsur yang ada pun berkesinambungan. Keempat proses tersebut adalah: 

1. Research (penelitian)
Seorang praktisi PR harus mengenal gejala dan penyebab permasalahan. Oleh sebab itu, praktisi PR perlu melibatkan dirinya dalam penelitian dalam pe-ngumpulan fakta. Ia perlu memantau dan membaca tentang pengertian, opini, sikap, dan perilaku orang-orang yang berkepentingan dan terpengaruhi oleh tindakan perusahaan. “What’s happening now?” merupakan kata-kata yang menjelaskan tahap ini. Seorang praktisi PR harus jeli dalam melihat data dan fakta yang erat sangkut pautnya dengan pekerjaan yang akan digarap. Segala keterangan harus diperoleh selengkap mungkin. Dalam tahap mendefinisikan penilitian, seorang praktisi PR harus meng-olah data faktual yang telah ada, mengadakan perbandingan, melakukan pertimbangan, dan menghasilkan penilaian, sehingga dapat diperoleh kesimpulan dan ketelitian dari data faktual yang telah didapat. Proses PR tidak sesederhana pengumpulan data dan fakta, namun juga harus mengedepankan pengolahan, penelitian, pengklasifikasian, dan penyusun-an data sedemikian rupa sehingga memudahkan pemecahan masalah nantinya. Penelitian dalam pencarian data ini dapat dilakukan dengan cara-cara: survei dan poling, wawancara, focus group discussion, wawancara mendalam, dan walking around research.

2. Planning (perencanaan)
Setelah tahap penelitian dan pencarian data, praktisi PR melanjutkan ke tahap perencanaan. Dalam tahap ini, praktisi PR melakukan penyusunan masalah. Ia melakukan pemikiran untuk mengatasi masalah dan menentukan orang-orang yang akan menggarap masalah nantinya. Perencanaan ini tidak boleh diabaikan, namun harus dipikirkan secara matang karena turut menentukan suksesnya pekerjaan PR secara keseluruhan. Perencanaan disusun atas data dan fakta yang telah diperoleh, bukan berdasarkan keinginan PR. Berdasarkan pada rumusan masalah, dibuat strategi perencanaan dan pengambilan keputusan untuk membuat program kerja berdasarkan kebijakan lembaga yang juga disesuaikan dengan kepentingan publik. Kata kunci dari tahap ini adalah, “What should we do and why?”

3. Action and Communication (aksi dan komunikasi)
Komunikasi sering kali dilakukan berdasarkan asumsi pribadi oleh seorang praktisi PR. Akibatnya, tindakan tersebut terkadang membawa hasil yang buruk dan tidak disarankan karena akan berisiko pada citra perusahaan. Tahap ini dilewati untuk mendapatkan jawaban pertanyaan, “How do we do it and say it”. Tujuan dan objektivitas yang spesifik harus dikaitkan untuk mencapai aksi dan komunikasi yang akan dilakukan oleh praktisi PR. Ia harus mampu mengkomunikasikan pelak pelaksanaan program sehingga dapat mempengaruhi sikap publiknya yang kemudian mendorong mereka untuk mendukung pelaksanaan program tersebut. Selain itu, ia juga harus melakukan aksi dan melakukan kegiatan PR sebaik-baiknya. Kegiatan aksi ini merupakan kegiatan komunikasi, selayaknya komunikasi kelompok, komunikasi massa, dan komunikasi organisasional. 

4. Evaluation (evaluasi)
Cara untuk mengetahui apakah prosesnya sudah selesai atau belum adalah dengan mengadakan evaluasi atas langkah-langkah yang telah diambil. Tujuan utama dari evaluasi adalah untuk mengukur keefektifitasan proses secara keseluruhan. Pada tahap ini, ia pun dituntut untuk teliti dan seksama demi keakuratan data dan fakta yang telah ada. Akan tetapi, perlu diingat bahwa nama tengah seorang praktisi PR adalah ‘krisis’. Oleh karena itu, setelah selesai satu permasalahan, tidak menutup kemungkinan untuk mendapatkan masalah baru lagi. Dengan demikian, tahap ini juga sebagai acuan perencanaan di masa mendatang. Singkat kata, “How did we do?” menjadi acuan dalam tahap ini.

6 Unsur Komunikasi Visual

1. Huruf: Abjad Phoenicia merupakan akar dari abjad Yunani yang akhirnya berkembang menjadi abjad latin pada 600 SM. Pada 1441 Johannes Guttenberg menemukan mesin cetak.

2. Gambar

3. Warna:
  • Memberikan kesan realistis 
  • Membangkitkan perhatian 
  • Warna merupakan bahasa psikologis untuk menguatkan pesan 
  • Meningkatkan tampilan artistik


4. Garis:
  • Pemisah antar bagian 
  • Pengarah perhatian 
  • Manipulasi ruang 
  • Mendukung tampilan artistik 


5. Bahan:
  • Memberi image/citra 
  • Menguatkan pesan 
  • Menentukan mutu tampilan 


6. Ruang kosong:
  • Memberikan kesempatan beristirahat 
  • Pesan yang diterima tidak terlalu berjejalan


Apa Itu Komunikasi Visual?

Arti:
Ilmu yang mempelajari konsep komunikasi dan ungkapan kreatif, teknik, dan media untuk menyampaikan pesan dan gagasan secara visual, termasuk audio dengan mengolah elemen grafis berupa bentuk dan gambar, huruf dan warna, serta tata letaknya, sehingga pesan dan gagasan dapat diterima oleh sasarannya.

Tujuan:
1.       Memahami & menganalisa prinsip- prinsip komunikasi visual lewat ilmu semiotic
2.       Memanfaatkan visual sebagai alat komunikasi yang efektif
3.       Memahami bagaimana suatu proses kreatif pencarian ide yang efektif

Prinsip:
Kreatif (asli, luwes, dan lancar), komunikatif, efisien, efektif, dan estetis.

Istilah:
·         Seni Grafis: ilmu seni murni.
·         Grafik: gambar diagram untuk menyampaikan daya perkembangan  atau penurunan tentang suatu hal secara sistem numerik.
·         Komunikasi Grafis: komunikasi visual, berasal dari kata bahasa Yunani “Graphos” yang berarti tulisan/gambar.
·         Visual Language: ilmu yang mempelajari bahasa visual.
·         Visualisasi: kegiatan menerjemahkan informasi dalam bentuk visual.
·         Visualiser: orang yang menangani masalah visual dalam suatu proyek desain.
·         Visual Effect: pemberian efek-efek yang merujuk pada visual.

·         Visual Information: informasi lewat visual (lambaian tangan, senyuman, baju baru).

Saturday, July 13, 2013

Model Komunikasi: Model Interaksional

Model ini menganggap bahwa manusia adalah figur yang aktif. Kualitas simbol itu terdiri dari kata interaksional, jadi model ini sepenuhnya berbeda dengan interaksi biasa yang ditandai dengan pertukaran stimulus - response. Model ini dikembangkan oleh George Herbert Mead, yang memiliki murid bernama Herbert Blumer. perspektif simbol interaksi lebih dikenal pada sosiologi walaupun masih memiliki banyak pengaruh di disiplin ilmu yang lain. 

Model ini beranggapan bahwa orang sebagai komunikator itu aktif, reflektif, dan kreatif, menafsirkan, menunjukan perilaku yang rumit, dan sulit untuk diprediksi. Di dalam konteks ini, Blumer menunjukan tiga premis yang menjadi dasar dalam model ini. Yang pertama, perilaku manusia berdasarkan pengertian yang diberikan individu kepada lingkungannya. Yang kedua, pengertian itu mempunyai hubungan langsung dengan interaksi sosial yang individu lakukan terhadap lingkungannya. Dan yang terakhir, pengertian itu diciptakan, dipertahankan, dan dirubah oleh proses penafsiran yang individu lakukan dalam rangka untuk menjaga hubungan dengan lingkungan sosialnya.